Tim Pendamping Permudah Pengembangan Food Estate

oleh -600 views
Bagikan:

SERPONG – Kementerian Pertanian memberikan perhatian ekstra untuk program Food Estate. Penguatan pun dilakukan dengan Koordinasi Tim Detasering Food Estate Tahun 2021 Serta Sinkronisasi Dan Koordinasi Kegiatan Penyuluhan Pertanian Melalui Dana Dekonsentrasi, yang dilaksanakan di Serpong, Jumat (2/7/2021).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Food Estate adalah program pemerintah yang harus mendapatkan dukungan.

“Dengan Food Estate, kita bukan hanya ingin menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Oleh karena itu, Food Estate tidak hanya dimanfaatkan untuk satu komoditas saja, tetapi multi komoditas,” terangnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, untuk menyediakan tambahan stok pangan nasional dan mengantisipasi dampak pandemi covid-19, maka Kementerian Pertanian telah menyusun berbagai program super prioritas dan program utama.

“Salah satunya adalah program pengembangan kawasan lumbung pangan atau Food Estate. Pentingnya peningkatan produksi dan penguatan cadangan pangan menjadikan program super prioritas ini harus ditangani secara extraordinary, salah satunya dengan pendampingan yang intensif melalui pembentukan Tim Pendampingan/Detasering Food Estate,” terangnya.

Dedi Nursyamsi menjelaskan, tim pendamping ini menjadi landasan utama dalam mengoptimalkan berbagai aktivitas food estate dari hulu ke hilir.

“Sehingga, kehadiran pendamping petani diharapkan dapat membantu percepatan pengembangan food estate dan memperkuat eksistensi kelembagaan petani serta pengembangan bisnis dan korporasi petani,” jelasnya.

Ditambahkannya, terdapat dua aspek utama dalam ruang lingkup pendampingan tim detasering, yaitu aspek teknis dan aspek kelembagaan.

Aspek teknis meliputi teknologi on farm, teknologi off farm, pendataan lahan dan Pemetaan lahan di Wilayah kerja, serta Pemantauan Distribusi bantuan Alsintan/ logistik/saprodi tepat sasaran.

“Sedangkan aspek kelembagaan adalah penguatan kapasitas dan transformasi kelembagaan petani menjadi suatu badan usaha yang dikelola dan dimiliki oleh petani, yang nantinya akan dibentuk gapoktan bersama sebagai cikal bakal korporasi atau BLU,” ujarnya lagi.

BACA JUGA :  Ketua DPD RI Ikut Panen Raya di Sumba Barat Daya

Pria yang akrab disapa Prof Dedi ini mengatakan, agar tujuan dan target kegiatan food estate dapat tercapai sesuai dengan target, maka perlu dikawal yang lebih optimal oleh semua stakeholder.

“Penyuluh pertanian serta tim detasering menjadi unsur yang sangat penting dalam mengawal dan mendampingi kegiatan ini. Maka penyuluh dan tim detasering harus mampu menggerakkan para petani dan kelembagaannya untuk dapat menerapkan inovasi teknologi yang mudah diterapkan, teruji keberhasilannya, dan menguntungkan bagi petani,” ujarnya.

Para petugas harus komunikatif, bertanggungjawab serta mampu melaksanakan beberapa tugas pokok.

Selain untuk koordinasi tim detasering food estate tahun 2021, menurut Dedi Nursyamsi, pertemuan ini juga dilakukan dalam rangka peningkatan sinergitas dan koordinasi serta percepatan pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian melalui Dana Dekonsentrasi tahun 2021 pasca revisi honor THL-TB PP yang telah diangkat menjadi PPPK.

Dedi juga menekankan agar serapan anggaran kegiatan penyuluhan pertanian dioptimalkan, genjot anggaran yang masih kurang dari 40%.

“Terkait hal itu, mari kita bersatu padu, bekerja keras dan cerdas serta bersinergi dengan baik antara pusat dan daerah dalam upaya mengakselerasi pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian agar realisasi keuangan dan fisiknya dapat tercapai sesuai target,” katanya.

Dedi juga mengatakan, program pengembangan food estate di Provinsi Kalimantan Tengah, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur serta percepatan pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian tahun 2021 pasca revisi honor THL-TB PP, harus mendapat dukungan semua pihak.

“Oleh sebab itu, kami berharap, melalui pertemuan Koordinasi Tim Detasering Food Estate Tahun 2021 serta Sinkronisasi dan Koordinasi Kegiatan Penyuluhan Pertanian Melalui Dana Dekonsentrasi ini, dapat kita jadikan momentum yang baik untuk bersama-sama berkomitmen dalam membangun sinergitas, kerjasama dan koordinasi guna mensukseskan program super prioritas dan utama pembangunan pertanian lainnya sebagai upaya mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *