Akselerasi Masif Digitalisasi Desa Melalui Sinergi Layanan Darurat

oleh -6.022 views
Bagikan:

JAKARTA – Penguatan akselerasi digitalisasi desa terus dilakukan pemerintah. Sasarannya transformasi informasi dan branding seluruh potensi desa. Formulasinya disinergikan dengan layanan panggilan darurat, diantaranya 110, 112, 113, 117, 118, 119, dan lainnya. Instrumen penting ini menjadi penyempurna infrastruktur sekaligus menaikan Travel Tourism Competitiveness Index (TTCI) Indonesia.

“Masyarakat di pedesaan kini bisa mendapatkan akses informasi dengan sangat lengkap. Akurasi informasinya juga bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga semakin dipermudah dengan koneksi layanan darurat,” ungkap Tokoh Pegiat Desa Yogi S. Saputra.

Program digitalisasi desa terus digulirkan masif. Desain awalnya untuk publikasi potensi unggulan desa dan layanan administrasi online. Seiring perkembangan kebutuhan masyarakat, program digitalisasi desa pun mengalami diferensiasi fungsi. Melalui kanal ini, masyarakat bisa mengakses informasi penunjang rasa keamanan.

“Desa kini benar-benar bisa menciptakan rasa amannya sendiri. Bisa tumbuh berkembang dan maju. Mereka juga bisa mengoptimalkan potensi lain, seperti pariwisata dan UMKM. Dengan kelengkapan informasi, desa sangat siap menerima kunjungan wisatawan menurut protokol kesehatan,” terang Yogi.

Untuk pemenuhan rasa keamanan dalam kehidupan bermasyarakat, program digitalisasi desa terkoneksi dengan layanan darurat tersebut. Koneksi tersebut terhubung melalui website desa, aplikasi, dan lainnya. Dengan treatment khusus, kanal tersebut bisa diakses melalui smartphone. Yogi menambahkan, masyarakat desa mendapat informasi lengkap.

“Layanan darurat ini sangat penting dan diperlukan masyarakat desa. Hanya saja, masyarakat desa selalu terkendala dengan jarak, akses komunikasi, dan kecepatan. Mereka juga perlu informasi cepat terkait kejadian yang sifatnya darurat, mulai dari gangguan keamanan, kesehatan, bencana alam, kebakaran, dan lainnya,” papar Yogi.

Menjadi panduan informasi masyarakat desa, layanan call 110 milik Polri menjadi penyedia informasi publik. Dikemas juga dalam aplikasi, layanan ini memungkinkan adanya pencatatan setiap interaksi Polri dan masyarakat. Masyarakat juga bisa melakukan panggilan ke akses 110 untuk pelaporan kecelakaan, kerusuhan, terkait keamanan dan ketertiban masyarakat.

BACA JUGA :  Berkunjung ke Monumen Kilometer Nol Sabang Aceh

“Layanan Contact Center 110 didesain sangat bagus. Layanan 110 bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat terkait keamanan publik. Masyarakat di manapun silahkan memanfaatkannya,” papar Kapolri Jenderal Listyo Sigit beberapa waktu lalu.

Lalu, bagaimana dengan layanan panggilan darurat 112? Layanan 112 milik Kominfo sempat meraih penghargaan di ajang Contact Center World Top Ranking Performance Competition tahun 2020. Bebas biaya, layanan 112 bisa untuk darurat. Sebut saja, kebakaran, memanggil ambulans atau petugas medis, kecelakaan, hingga kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Layanan 112 digulirkan sejak 2016 dengan dasar hukum Peraturan Menteri No.10 tahun 2016 tentang Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat. Saat ini layanan 112 bisa dinikmati pada 65 kabupaten/kota. Panggilan darurat 112 beroperasi setiap hari dan jadi gambaran transformasi digital.

“Respon masyarakat terhadap layanan 112 sejauh ini bagus. Sudah seharusnya fasilitas-fasilitas seperti ini dioptimalkan oleh publik. Harapannya, agar kodisi darurat bisa tertangani dengan cepat dan maksimal,” tegas Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ahmad M. Ramli.

Lebih lanjut, digitalisasi desa akan terkoneksi dengan layanan darurat 119. Nomor ini menjadi garansi layanan medis darurat dan panggilan akan diteruskan call center kepada pelayanan medis terdekat. Ada juga layanan Ambulans Gawat Darurat melalui layanan nomor 118. Seandainya terjadi kebakaran bisa call 113.

Untuk layanan darurat 113 hanya dibutuhkan waktu 15 menit bagi petugas untuk sampai di lokasi kebakaran. Kondisi ini tentu akan mengurangi potensi sebaran api lebih luas. Terkait kondisi darurat bencana, publik juga bisa memakai call center 117. Pelapor hanya wajib menyebutkan alamat lengkap yang menjadi lokasi unit pelaporan.

Sementara, akselerasi digitalisasi desa yang terkoneksi dengan beragam layanan darurat tentu membuat TTCI Indonesia semakin positif. Kepercayaan pasar wisatawan akan naik karena mendapatkan jaminan keamanan dan kesehatan full di destinasi. Pasar juga leluasa mendapatkan akses informasi potensi pariwisata dan ekonomi kreatifnya.

BACA JUGA :  Polisi Tangkap Enam Pemuda yang Perkosa Siswi SMP Bergilir

“Digitalisasi desa tentu bagus bagi branding pariwisata. Mengangkat seluruh potensi destinasi dan ekonomi kreatifnya. Menaikan daya tawar destinasi terhadap pasar. Sebab, ada banyak kemudahan akses informasi bagi wisatawan saat di destinasi. Daya saing pariwisata Indonesia akan naik karena infrastrukturnya bagus,” tutup Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf Vinsensius Jemadu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *